Wednesday, April 20, 2011

seperti angin lalu

Gambar ini...

Ini...

Dan ini...

Hanya ini sahaja yang mampu ku ungkap...

Sunday, February 20, 2011

Mengorak Langkah...

Mengapa perjuangan itu pahit??
Kerana syurga itu manis..

Untuk mendapat sesuatau kemanisan, keselesaan dan keindahan
perlunya melalui segala onak dan liku-liku yang sangat mencabar dan sukar.. 

Selangkah ke alam perjuangan bererti selamanya dalam kepahitan,
biarlah kita merasakn kecewa, menangis, terluka sekarang...
kerana Allah akan menyediakan sesuatu yang indah dan baik buat kita..

Setiap langkah kaki..setiap titis peluh yang menitis dalam perjuangan
akan mendapat ganjaran daripada Allah
janganlah disebabkan onak dan liku yang sukar kita berhenti mengorak langkah 

Ya Allah, Ya Tuhanku,
tetapkanlah hatiku dalam jalan perjuangan menuju cintaMu..



Sunday, February 6, 2011

Yakin pada Allah

Pagi Ahad, 6 Februari 2011 bersamaan dengan 3 Rabiulawal 1432H..
Hari ini tangan ku ringan untuk menaip sebagai perkongsian ilmu bersama.

Cuba kita lihat manusia pada zaman sekarang. Terlalu mempercayai benda-benda yang karut, kurafat dan boleh membawa kepada syirik.
Apa sebabnya??Apa puncanya??
Semua ny sebab kekurangan ilmu..Kurang penghayatan Islam..dan..Tiada keyakinan kepada Allah..

Sebagai muslim kita mesti meletakkan keyakinan 100% kepada Allah..Yakin setiap yang Allah berikan ada hikmah tertentu. Jangan mudah putus asa terhadap rahmat Allah..

Yakin terhadap rezeki yang Allah beri..
Yakin terhadap jodoh yang Allah tentukan..
Yakin bahawa setiap manusia itu akan mati..

Yakinlah kepada tuhan
Tidak semua yang kita rancang menjadi kenyataan
Kerana itulah fitrahnya
Jangan cepat mengalah dan putus asa..


Monday, January 31, 2011

'IZZAH DALAM TAWADHU'

Rasulullah SAW bersabda: "Tiada berkurang harta kerana sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu' kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat 'izzah) oleh Allah". (HR. Muslim)


Tawadhu' adalah lawan dari takabur. Tawadhu' adalah melebur dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT dan dihadapan hamba-hamba Allah. Sedangkan takabur ertinya sombong atau merasa dirinya lebih dari yang lain. Ketakaburan yang paling tinggi adalah manakala seseorang sudah merasa lebih tinggi daripada Allah SWT, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Firaun.


Tawadhu' ialah senantiasa berorientasi pada kebenaran dan siap menerima kebenaran tanpa melihat siapa yang berbicara. Sedangkan Abdullah bin Hasan Al-Anshary berkata: Aku lebih suka menjadi ekor dalam kebenaran daripada menjadi kepala dalam kebatilan. Sementara Ibnu Atha' mengatakan: Tawadhu' adalah menerima kebenaran dari siapapun datangnya, dan 'izzah (kemuliaan) itu ada di dalam tawadhu'.



Klasifikasi Tawadhu' dan tanda-tandanya.At-Tawadhu' dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis tawadhu' iaitu:


1. Tawadhu' kepada Allah SWT. Tawadhu' kepada Allah SWT ertinya merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Allah SWT diantaranya:
a. Merasa kecil/sedikit dalam taat kepada Allah, ertinya seseorang yang tawadhu' kepada Allah SWT itu merasa bahawa dalam ketaatannya, ibadahnya kepada Allah masih sangat sedikit kecil dibandingkan dengan dosa yang telah dilakukan.
b. Merasa besar/banyak dalam maksiat, ertinya seseorang tawadhu' kepada Allah SWT, merasa bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukannya sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.
c. Melambungkan pujian kepada Allah SWT dan tidak kepada diri sendiri.
d. Tidak menuntut hak kepada Allah, tetapi berorientasi kepada amal yang harus dilakukan.


2. Tawadhu' kepada Dienullah (al-Islam). Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Dienullah diantaranya:
a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama Islam.
b. Tidak mengontradiksikan al-Islam baik dalam perkataan, perasaan, pemikiran dan perbuatan.


3. Tawadhu' kepada Rasulullah SAW. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Rasulullah SAW diantaranya:
a. Mengutamakan petunjuk Rasulullah SAW di atas manusia lainnya.
b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau SAW.
c. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan hidupnya.


4. Tawadhu' kepada sesama mukmin. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada mukmin yang lain diantaranya:
a. Menerima nasihat/saran kebenaran dari mukmin yang lain.
b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.
c. Siap membantu mukmin yang lain.
d. Bermusyawarah dengan mukmin yang lain.
e. Senantiasa bersangka baik (huznuzhan) kepada mukmin yang lain.


Hubungan Tawadhu' dengan 'Izzah (Kemuliaan):
Orang yang tawadhu' kepada Allah SWT kepada Dienullah (Islam), kepada Rasulullah SAW dan kepada sesama mukmin adalah orang-orang yang akan mendapatkan 'Izzah (kemuliaan) di sisi Allah SWT.


Firman Allah SWT: "....Padahal 'Izzah itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya, dan bagi orang-orang mukmin. (QS.Al-Munfiqun : 8).Sabda Rasulullah SAW: "Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah kepada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu' karena Allah melainkan dimuliakan oleh Allah (HR. Muslim).


Dari ayat dan hadits di atas, makin jelaslah bahwa kemuliaan itu tidak ditentukan oleh harta yang dimiliki, jabatan dan pangkat yang tinggi, ataupun darah keturunan bangsawan, dan perhiasan-perhiasan dunia lainnya. Akan tetapi 'izzah seseorang akan sangat tergantung kepada sifat tawadhu' yang ada pada peribadi seorang mukmin.Sahabat-sahabat Rasulullah SAW, adalah peribadi yang sangat tawadhu' dan memiliki 'izzah yang tinggi. Sekalipun sebagian besar adalah orang-orang yang miskin, bekas-bekas budak dan kaum dhu'afa, namun mereka memiliki 'izzah yang tinggi.


Marilah kita lihat kembali sebuah episode sejarah yang menunjukkan 'izzah kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.Saat itu, dua pasukan besar berhadap-hadapan, 40.000 tentara kaum muslimin dan 20.000 tentara Persia. Panglima Rustum duduk di atas singgasana yang berkilau-kilau bertatahkan emas dan permata, dikelilingi pengawalnya yang tertunduk di hadapan Sang Panglima. Karpet tebal terhampar di hadapan Sang Panglima. Mereka sedang menunggu utusan kaum muslimin untuk mengadakan perundingan.Tidak lama kemudian, datanglah Rubaya bin Amir utusan kaum muslimin dengan kudanya. Baju, kuda dan sepatunya biasa-biasa saja, sangat sederhana. Rubaya bin Amir dengan tenangnya melangkah di hadapan Sang Panglima sambil menggiring kudanya di atas karpet sampai di hadapan Panglima Rustum. Hal ini membuat gaduh pengawal Rustum, kerana geramnya. 
Setelah suasana reda, dengan tenang Rubaya menyampaikan sikap kaum muslimin: "Kami datang membawa misi Ilahi untuk membebaskan manusia kepada menyembah Allah, dari alam kecil ke alam besar, dan kekejaman Majusi kepada keadilan Islam. Dan Allah mengutus kami dengan agamaNya untuk mengajak manusia kepadaNya. Siapa saja yang menerima seruan kami, kami akan menerimanya dengan baik. Kemudian kami akan kembali dan meninggalkan bumi mereka, lalu kami akan serahkan tongkat estafet dakwah itu kepada mereka untuk melanjutkannya. Akan tetapi jika ada yang menolak seruan kami, kami tidak akan berhenti berperang menghadapi mereka sampai batas yang dijanjikan Allah".Inilah 'izzah kaum muslimin pada saat itu, ke mana larinya 'izzah itu sekarang?


Wallahu a'lam..



Sunday, January 30, 2011

Kepandaian Yang Berbeza

Satu hari seorang profesor bijak sedang menyeberangi sungai yang luas dengan sebuah sampan yang didayung oleh pakcik pendayung.
 Di tengah perjalanan, profesor bertanya, "Kamu pandai menulis dan membaca?"
 "Tidak, tuan. Saya buta huruf,"jawab pendayung sampan.
 "Oh, kamu sudah hilang separuh daripada kehidupan kamu! Orang yang tidak pndai menulis dan membaca telah hilang separuh keupayaan untuk hidup dengan berjaya."
 Sampan itu terus bergerak meredah sungai yang luas.
 Sejurus kemudian, profesor bertanya lagi, "Kamu ada membut simpanan wang untuk masa depan?"
 "Tiada tuan. Pendapatan saya hanya cukup-cukup makan," jawab pendayung sampan lagi.
 "Kalau begitu, kamu hilang lagi separuh daripada kehidupan kamu. Mana mungkin orang yang tidak menyimpan wang boleh hidup selesa pada masa tua nanti,"
 Sampan terus bergerak. Tiba-tiba sampan itu terlanggar bucu sebuah batu dan bocor. Air mula memasuki sampan.
 Mereka berdua bergegas mengambil apa jua bekas untuk mencedok air keluar dari sampan. Namun usaha mereka gagal kerana air begitu deras masuk. Ternyata sampan itu akan tenggelam!
 Dalam keadaan cemas itu, si pendayung bertanya kepada profesor, "Tuan! Tuan pandai berenang?"
 "Er, er, saya tidak tahu berenang!" jawab profesor panik.
 "Kalau begitu, tuan akan kehilangan seluruh hidup tuan!"

Pengajaran: Allah tidak jadikan manusia ini bodoh, tetapi Dia jadikan setiap orang mempunyai "kepandaian" yang berlainan. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan tersendiri. Jadi, tidak ada manusia bodoh, yang ada hanya manusia dengan kepandaian yang berbeza.